Thursday, October 4, 2007

Strategi Menarik Pembaca Muda Versi Tabloid Genie

Prinsip bisnis media pada umumnya adalah bagaimana caranya agar produk media yang diproduksi bisa menarik para pembacanya. Begitu juga dengan media-media dengan segmentasi khusus pembaca muda.

Untuk mengetahui strategi bagaimana menarik pembaca muda, tentu saja kita harus mengetahui karakter dan harapan-harapan pembaca muda dalam memenuhi kebutuhan mereka yang berkaitan dengan masalah informasi.

Dalam pandangan saya, setidaknya ada lima kebutuhan informasi mendasar yang dipandang penting bagi para pembaca muda, yaitu:



1. GOSSIP.


Informasi seputar gosip selebriti ini merupakan kebutuhan penting bagi para pembaca muda, karena bisa digunakan sebagai modal utama dalam pergaulan. Mereka tidak mau terlihat ketinggalan berita, baik dalam pergaulan sekolah, luar sekolah maupun di rumah. Bila perlu, semua gossip yang ada di media, mereka akan serap informasinya.

2. ENTERTAINMENT.

Dunia hiburan adalah dunia pembaca muda. Coba lihat, yang menjadi berita di tayangan infotainment kebanyakan adalah orang-orang muda. Mereka mendominasi dunia hiburan dan entertainment baik di layar kaca maupun di dunia nyata. Jadi, informasi mengenai hiburan pun pasti akan menjadi kebutuhan utama pembaca muda. Mereka pun tidak mau terlihat kurang percaya diri.

3. NEWS

Berita aktual seputar selebriti ternama terutama yang memiliki nuansa tragedi, kriminalitas, skandal, dan sebagainya tetap menjadi kebutuhan yang menarik untuk diketahui. Bukan hanya oleh pembaca muda, tetapi juga oleh pembaca pada umumnya. Apalagi pelaku-pelaku utamanya adalah orang-orang muda, yang tentunya bisa menjadi cermin atau pun refleksi tingkah polah mereka.

4. INFORMATION.

Berita-berita yang berupa informasi juga mendapat porsi perhatian yang cukup baik, value media cetak ada di sini. Berita sekilas yang singkat padat informatif bagi para pembaca muda memang sangat diperlukan, untuk pembaca muda dengan tingkat aktifitas yang cukup tinggi.

5. EDUCATION.

Berita-berita edukasi ini juga berfungsi memberikan value terhadap media cetak, karena memberikan informasi-informasi yang bersifat tips-tips, dan teknis praktis yang mudah dilakukan dan mudah ditiru. Informasi tersebut dapat menjadi second opinion, atas informasi yang diperoleh dari orangtua, guru maupun orang lain.

Atas kesadaran tumbuhnya kebutuhan informasi terhadap hal-hal seperti di atas inilah, kemudian Tabloid Genie merumuskan secara detail rubrikasi-rubrikasinya. Tentu saja, dengan tetap berpegangan kepada pakem bahwa secara jurnalistik, Tabloid Genie harus bisa menarik pembacanya, karena memang “dagangannya” di situ. Selaras dengan content-nya, hal lain yang penting diperhatikan juga adalah kemasannya. Disain grafis pun harus bisa menjadi magnet bagi para pembacanya.

Promosi bagaimana ? Dukungan promosi dari televisi, tentu memiliki peran yang sangat baik. Melalui layar kaca, sosialisasi rubrikasi-rubrikasi unggulan Tabloid Genie, dan informasi segmentasi kelas pembacanya dikomunikasikan.

Hanya dengan strategi komunikasi yang sesuai, maka pesan yang disampaikan akan tiba di alamat yang tepat. Dengan promosi di televise, tabloid Genie juga berupaya menggaet penonton televisi muda pun untuk menjadi bagian dari komunitas pembaca kita.

Kami memonitor sungguh-sungguh harapan dan kepuasan pembaca kami melalui surat pembaca. Trend pertumbuhan pembaca Tabloid Genie memperlihatkan grafik yang meningkat secara perlahan namun pasti. Kami mengartikannya bahwa karya jurnalistik dan kemasan yang diharapkan pembaca muda setidaknya sudah sesuai dengan harapan. (Budi Purnomo)

Disampaikan dalam seminar nasional "1001 Menarik Pembaca Muda" yang diselenggarakan oleh Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), Rabu (24 Mei 2006) di Hotel Harris, Tebet. Seminar Nasional diikuti oleh para pelaku usaha media cetak nasional.

Seven Key Steps to Buying a Fast Food Franchise #2

4. Select prime location. The specific location within your target area also is critical. If you are situated in an infrequently traveled area no where near complimentary businesses or at the back of a strip mall, you limit your earning potential. Even if you are the only game
in town you must gauge the likelihood of outsiders visiting your restaurant. If the restaurant is right off of a major freeway heavily traveled by truckers and road trippers you may be highly successful despite a remote location.

5. Secure financing and choose a franchise. Once you have made your selection, you'll probably need financing. There are numerous options, including conventional bank loans, SBA guaranteed loans and home equity loans. Some franchisors offer their own in-house financing. For less expensive franchises like home-based business franchises you may not need to borrow money. Some franchisees charge the franchise fee on a credit card.

6. Attend training/hire staff. In order to run the business you will need training and an operating manual. Your franchisor should provide some form of training. Depending on your franchise concept you may need to hire a staff. Before your business opens you'll want to post signs and run an ad advertising openings.

7. Get necessary permits and insurance. You may be required to apply for various federal, state and county licenses and permits. Each industry has its own requirements for insurance. This information should be listed in the Franchise Agreement.

:: allbusiness.com ::

Seven Key Steps to Buying a Fast Food Franchise #1

Fast food franchising is $125 billion a year industry, accounting for a large portion of restaurant sales in the U.S., so understanding their popularity and proliferation is easy. Buying a fast food franchise, while potentially lucrative, requires a lot of hard work. The following key steps will help

you prepare for becoming a fast food franchise owner.

1. Evaluate your skills, interests, and financial situation. Before you buy a fast food franchise you should take inventory of your skills and interests. What is it that appeals to you about owning a fast food franchise? Are you willing and able to work long hours, including evenings, weekends and holidays? Understanding your financial situation may save you time and money by immediately narrowing your options to what you can afford.

2. Research opportunities. Once you have narrowed the choices down to a few that match your skills set, interests and budget, it is time to dig deeper. Request the franchisor's UFOC and financial statements and interview existing and possibly former franchisees to find out whether or not they are satisfied with their earnings and the franchisor's performance and ability to fulfill their obligations.

3. Research your market. You may have visited a fast food franchise and the line out the door got you thinking about opening up a location in your neighborhood or city. If you live nearby, obviously there is less risk. Keep in mind that because a concept works in one area does not mean it will be well-received by customers in your location. Tastes are subject to regional preference. In dense, urban centers you are more likely to be successful with a niche concept than in a small town in the Midwest. Another thing to consider is competition. If your market is saturated with similar restaurants and the population may not be large enough to support more restaurants, you may want to rethink your concept.

To be continued.... :)

Peranan Public Relations dalam Manajemen Krisis

Hampir semua organisasi pernah mengalami krisis, wajar kalau kemudian sekarang ini timbul kesadaran dari pimpinan organisasi bahwa mereka memerlukan kesiapan tersendiri untuk menghadapi krisis, terutama yang berkaitan dengan media relations atau hubungan dengan pers. Kesadaran seperti ini, juga dapat diartikan sebagai peluang yang baik bagi para praktisi PR di organisasi-organisasi.


Seperti diketahui, kemajuan teknologi media, akan dengan mudah dan cepat menyampaikan informasi krisis ke seluruh penjuru. Berita mengenai krisis, isu miring, atau pun berita negatif akan dengan cepat menyebar ke mana-mana. Teknologi internet yang kini menjadi bagian dari kehidupan kita menyebabkan mudahnya memperoleh informasi.

Penyebab terjadinya krisis adalah karena keterbatasan manusia mengatasi berbagai tuntutan lingkungan atau kegagalan teknologi tinggi. Beberapa contoh, memperlihatkan hal tersebut kepada kita. Musibah lainnya yang dapat menyebabkan krisis adalah pemogokan masal, kebakaran, kecelakaan, ancaman pengambilalihan perusahaan, peraturan baru yang merugikan, skandal, resesi ekonomi, dan sebagainya.

Pada dasarnya ada dua macam kemungkinan krisis. Pertama, yang bisa diperhitungkan, dan kedua, yang tidak bisa diperhitungkan. Yang bisa diperhitungkan, berkaitan erat dengan karakteristik atau bidang kegiatan yang digeluti oleh suatu organisasi. Sedangkan yang tidak bisa diantisipasi adalah krisis eksternal yang juga sama-sama berbahaya.

Organisasi perlu membentuk tim manajemen krisis yang permanen dan ramping, agar mereka dapat selelu berkomunikasi. Bila terjadi krisis, tim ini harus mengambil inisiatif dan memberikan respon pertama untuk menjelaskan kepada publik, jangan sampai tim merespon akibat pertanyaan pers. Upaya menutup-nutupi krisis bisa berakibat fatal, misalnya pers semakin aktif menurunkan tim investigasinya untuk mengorek krisis lebih dalam.

Tugas utama yang harus dilakukan oleh tim krisis adalah melakukan identifikasi krisis dan menentukan langkah-langkah apa yang harus dilakukan. Semua tim harus bisa menjelaskan pesan-pesan komunikasi yang sudah disepakati. Tim manajemen krisis harus menghindari pernyataan off the record, karena dia benar-benar menguasai masalahnya. Baik sekali kalau diterbitkan buku petunjuk penanggulangan krisis.

Ada hal penting yang diingat oleh praktisi PR, soal pers, dalam situasi krisis, yaitu :

· Pers beranggapan bahwa berita buruk adalah berita yang baik bagi pers.

· Pers seperti burung pemakan bangkai, akan mencecar korban dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa memojokkan

Dalam konteks tersebut, penting untuk diketahui bagaimana strategi berhubungan dengan media yang baik. Karena hal demikian akan menjadi salah satu kunci penting, bagaimana PR dapat mengambil peranannya dengan baik.

Selain pers, stakeholder lainnya juga penting untuk dihadapi secara khusus. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan krisis pasti akan diajukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Tim juga harus bisa menjelaskan hal yang sama kepada stakeholder.

Untuk memuluskan program PR, bisa pula dihadirkan pihak ketiga yang dianggap kompeten dan netral. Pihak ketiga ini bisa perorangan maupun organisasi yang dianggap bisa memberikan opini yang independen, namun menguntungkan.

Disinilah peranan lobbying yang seharusnya selalu dilakukan oleh PR menjadi sangat berarti. Hubungan baik dengan pihak tokoh masyarakat, para pengamat, LSM, karyawan berpengaruh, dapat menjadi pihak ketiga yang penting untuk memuluskan program PR, baik sebagai nara sumber pers, atau pun menjelaskan kepada publik mengenai masalah yang terjadi.

Dengan demikian, PR dapat berperan sebagai penarik dan penilai kesimpulan atas opini, sikap serta aspirasi dari berbagai kelompok masyarakat (internal dan eksternal) yang terkena dampak kegiatan PR. Selain itu, PR dapat juga mengajukan usul atau saran kebijakan atau etika perilaku tertentu yang akan menyelaraskan kepentingan klien dengan kelompok masyarakat tertentu. Juga, PR dapat merencanakan dan melaksanakan rencana janga pendek, menengah, dan panjang untuk menciptakan dan meningkatkan pengertian dan pemahanan terhadap objek, kegiatan, metode dan masalah yang dihadapi.

Pentingnya peranan PR dalam menghadapi isu atau krisis jelas tidak bisa diragukan lagi. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila organisasi mengalami krisis dan diisukan negatif, tapi tidak ada sfat PR yang menanganinya. Pasti isu akan semakin berkembang dan krisis akan semakin membesar.

Philip Kotler memasukkan humas dalam konsep Mega Marketing, intinya bangunlah citra melalui PR. Tanpa citra yang baik, organisasi akan dibenci dan produknya tidak laku. Tugas PR memang sangat luas, dari menjembatani komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat, menjabarkan misi perusahaan lewat company profile, menggunakan pers untuk publisitas, meluncurkan opini lewat public figure, dan sejumlah peran lainnya.

Bahkan karena banyak berurusan dengan opini dan persepsi publik, PR juga digunakan untuk menyelamatkan nama baik perusahaan. Tugas PR bisa juga meluruskan opini yang keliru tentang suatu institusi.


Artikel ini pernah disampaikan dalam Workshop Teknis Kehumasan yang diselenggarakan oleh Biro Umum dan Humas Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Selasa, 12 Oktober 2004. Peserta Workshop sekitar 40-an orang yang terdiri dari para pejabat/staf wakil dari Direktorat Jenderal/Badan, Inspektorat Jenderal dan Pusdatin di lingkungan Deperindag yang telah ditunjuk sebagai kontak person Jaringan Komunikasi Intern Deperindag, ditambah beberapa staf Biro Umum dan Humas.


by Budi Purnomo

Cara Bijak Berinvestasi Saham

Seorang investor yang bijak biasanya memiliki beberapa kebiasaan sebagai berikut.

1. Abaikan saja berita pagi! Mengapa? "What appears in newspapers is often new but seldom true." Begitu kata Patrick Kavanagh (1905–67), penyair dan penulis Irlandia (1967). Namun, agar Anda tak sampai ketinggalan informasi, coba luangkan waktu senja, perhatikan laporan tentang situasi bursa saham hari itu. Peganglah beberapa kata kunci yang dilukiskan media massa tengan kejadian di bursa saham sepanjang hari itu. Misalnya, ungkapan tentang situasi bursa secara umum atau harga saham tertentu yang ‘menguat’ atau sebaliknya ‘merosot.’ Atau laporan tentang kinerja fundamental emiten tertentu, atau peristiwa tertentu dalam perusahaan yang berdampak besar pada kinerjanya, Catat pula perkembangan social politik yang punya dampak besar bagi kegiatan ekonomi dan bisnis. Itu saja. Tapi, janganlah pula terlalu larut dalam berita-berita pers itu.

2. Kala kinerja sahammu melemah, ingatlah kapan saham-sahammu mencapai posisi terbaik. Tentu saja, cara terbaik untuk melihat tren tersebut ialah dengan membuat catatan tentang perkembangan sahammu. Jadi, ikuti terus tren harga sahammu!

3. Perhatikan seluruh holding, dan awasi perkembangannya seakan-akan seluruh aham holding merupakan portfolio investasi Anda. Investor yang bijak tak boleh memusatkan perhatiannya hanya pada saham yang dipegangnya, tapi saham dari seluruh holding company. Sebab pergerakan pada holding sudah pasti mempengaruhi kinerja sahammu.

4. Berekspektasilah lebih rendah dari sesuatu yang sempurna! Jangan sampai Anda membuat ekspetasi yang tak realistik pada perusahaan yang menjadi lahan investasi Anda.

5. Lekaslah bayar pajak setelah meraup gain! Jangan menunda sampai akhirya harga sahammu jatuh dan anda mengalami rugi. Jika Anda menunda-nunda pajak, Anda bisa tekor lebih besar lagi.

6. Diversikasi tak berarti Anda memegang 100 jenis saham sekaligus. Lebih baik melakukan diversikasi pada beberapa sector daripada melakukan diversikasi dengan membeli banyak saham. Ingat falsafah ‘sapu lidi’ Lebih mudah mematahkan satu batang lidi, dari pada mematahkan lidi-lidi yang terikat menjadi sebuah sapu. Jadi, jangan memegang saham secara perusahaan, tapi kuasailah saham secara sektoral. Berdasarkan filosofi seperti itu, maka lebih bijak bila Anda menggunakan jasa fund manager yang punya reputasi tinggi.

7. Belajarlah menjadi seorang filosof! Jangan pernah menelan bulat-bulat semua data atau laporan keuangan perusahaan. Berusahalah mencari tahu mengapa data atau kinerja keuangan perusahaan demikian adanya?

8. Ingat, tak ada lahan investasi yang menjanjikan keuntungan dari pada pasar modal! Anda pasti meraih gain, jika Anda mengivestasikan uang Anda pada saham yang berkualitas.

11. Beli dengan harga murah, dan jualah pada harga bergerak naik!

12. “When in doubt, don't. Don't buy, don't sell, don't do anything.” Ya, jangan pernah merasa tak sabar dengan waktu. Biarkan waktu mengalir. Sebab dalam keragu-raguan atau pun kenikan besar kemungkinan Anda mengambil keputusan yang keliru.

13. Faktor fundamental penting, tapi itu bukanlah faktor penentu satu-satunya. Faktor-faktor sentimen lebih penting jika Anda mengail ‘gain’ untuk ‘short term’.

14. Jadikan aksi investasi sebagai kegiatan yang menyenangkan!
Investing should be fun! Jika Anda overly-invested, maka Anda tak merasakan nikmatnya bermain saham. Tapi, jangan sekali-kali melihat bursa saham sebagai arena gambling, sekali pun punya risiko yang hampir sama. Ada orang yang menjadikan bursa saham sebagai mata pencahariannya. Tapi, ingat itu tidak lazim. Lebih baik Anda menjadi seorang yang goal oriented.

Set a stop-loss and a selling price before you buy, and stick to it. Prinsip ini akan membuat Anda lebih bisa menahan diri dan lebih waspada dengan potensi kerugian.
Begitulah peraaan, cara berpikir dan pola tindak dari investor yang bijaksana! Enjoy!

by Budi Purnomo